ULANG TAHUN

    KUNJUNGAN

    PENGUNJUNG

    IP

    ONLINE

    free counters

    BERTANGGUNG JAWAB

    Ini adalah penggalan kisah sewaktu remaja dari sepupunya Indira Gandhi. Menetap di Afrika Selatan, mereka tinggal di pinggiran kota (seperti Parung begitu), sehingga kalau ada keperluan besar atau hiburan yang lebih ok punya harus ke kota.

    Suatu saat di akhir pekan si (sebut saja) Amril perlu membeli keperluan sekolah yang kebetulan hanya tersedia di kota. Ia meminjam mobil ayahnya. “Wah, kebetulan. Bisa tolong sembari kamu belanja keperluan, taruhlah mobil di bengkel langganan kita untuk diservis.” kata ayahnya. “Ayah nanti menyusul naik bis saja, dan pulangnya kita bareng.” Amril tentu saja tidak keberatan. Setibanya di kota, setelah menaruh mobil di bengkel dan rampung belanja keperluannya, ia bertemu beberapa teman yang sedang berada di kota pula. Mereka melihat ada film bagus sedang diputar, dan memutuskan menonton film tersebut. Sesudah itu masih ngumpulngumpul, ngobrol-ngobrol. Sudah setengah enam sore ketika Amril baru ingat janji untuk menjemput ayahnya di toko langganan ayahnya. Bergegas ia menuju bengkel, lalu secepatnya memacu gas ke sana. “Kok sore sekali, apa yang terjadi?” tanya ayahnya, dengan nada biasa. Karena si Amril merasa bersalah tapi takut dimarahi, ia mencari alasan : “Anu ayah, bengkelnya penuh sekali. Ee .. ini baru selesai dikerjakan.” jawabnya terbata-bata. “Oh, betul begitu ya?” tanya ayahnya lagi. Amril hanya mengangguk lemah.

    Ayahnya menghela napas, kemudian berkata, “Nak, aku telah menelpon bengkel, dan mereka mengatakan mobil kita sudah siap dari pukul setengah tiga tadi.” Amril terhenyak. Ia siap menerima hukuman.
    Tapi “Ayah tahu kamu berkata tidak jujur. Itu berarti ayah belum berhasil mendidik kamu untuk menjunjung tinggi kejujuran. sebagai hukumannya, ayah akan berjalan kaki ke rumah sambil merenungkan peristiwa ini.” Sang ayah langsung memulai langkahnya, dan sama sekali tidak mempan dibujuk agar mau masuk ke mobil. Mereka sampai di rumah hampir setengah sepuluh malam. Dan sepanjang waktu hampir empat jam tersebut, sepanjang perjalanan pulang, sambil menyetir mobil pelan-pelan di belakang langkah ayahnya, Amril begitu tersiksa Clan menangis tersedu-sedu. Sesudah itu ia tidak pernah lagi alga menegakkan nilai kejujuran dalam segenap perilakunya

    Tentunya jauh lebih mudah untuk mencari penyebab di luar diri – ini hal yang umum. Misalnya. Ketika jalan tol menuju bandara menjadi lautan air, penjelasan yang diberikan adalah pompa-pompa kalah cepat bekerjanya dibanding datangnya air, sehingga akhirnya terendam dan tidak berfungsi.
    Ketika harga kedelai dan bahan pokok lain meroket di awal tahun ’seorang pe] . abat tinggi dengan yakinnya menyatakan bahwa “ini faktor eksternal, kita tidak bisa apa-apa.”
    Ketika penjualan tim kita turun, biasanya faktor kondisi ekonomi berperan besar di situ. Ketika banyak anak buah bekerja setengah hati, kita mengeluh kebijakan manajemen yang wring berubah-ubahlah, yang membuat mereka menjadi demotivasi.
    Penjelasan dan penyebab tersebut biasanya bukannya 100% salah. Tetapi pemimpin sejati akan bertindak seperti ayah Amril. Tidak bersusah payah dan ngotot mencari dan menyalahkan penyebab di luar dirinya. Tidak repot mencari kambing hitam. Melainkan menyadari kondisi tersebut Clan menerima konsekuensinya. Tentu tidak pasrah, tetapi disertai semangat baja untuk memperbaikinya, dimulai dengan memperbaiki diri sendiri.

    Kesediaan bertanggung-jawab ini oleh Stephen Covey diidentifikasi sebagai salah satu kebiasaan utama dari orang-orang yang efektif. Ia menyebutnya sebagai kebiasaan proaktif. Orang-orang yang terbiasa proaktif akan melihat Clan menjalankan apa yang bisa dilakukannya, dalam batasan pengaruhnya, tidak berlama-lama mengeluhkan faktor luar diri yang bisa jadi penghambat. Kita melihat betapa dampak pro-aktif ini sangat powerful. Baik bagi diri sendiri, maupun bagi pengikutnya. Selain ayah Amril di atas, pemimpin seperti Gandhi, Al Gore, Darwin Smith adalah sedikit contoh penerapannya. Bila kita memang ingin menjadi pemimpin sejati, tampaknya kita perlu membiasakan diri untuk mengambil tanggungjawab, terbiasa proaktif.

    from PQM Newsletter

    1 comment to BERTANGGUNG JAWAB

    • Ris

      nice & good article…,
      AA Gym sudah sering katakan…, “dimulai-lah dari diri sendiri”.
      Tentunya termasuk kalau men-”judge” sesuatu yang kecenderungan sebagian besar orang, selalu menyalahkan orang lain dulu….

    Leave a Reply

     

     

     

    You can use these HTML tags

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>